Filed under: artikel
Sumber: Haba Rakyat edisi vi November 2007
“Akhirnya saya percaya bahwa watak khas dan arah dari revolusi Indonesia pada permulaannya memang ditentukan oleh ’kesadaran pemuda’ ini.” Ben Anderson.
Keadaan terparah dalam sistem demokrasi adalah dimana saat seluruh komponen rakyat hidup ketakutan dalam bayang-bayang rezim militeristik, tidak bebas berekpresi dan mengemukakan pendapat politiknya. Lebih naif lagi, bila kita melepaskan begitu saja keadaan demokrasi tanpa melakukan tindakan politik.
Tindak hanya di Indeonesia, kepeloporan kamum muda dalam menentukan arah sejarah bangsanya sendiri juga terjadi di Amerika Latin.
“Berilah aku sepuluh pemuda, maka akan kuguncangkan dunia.” Kata Soekarno. Pidato yang berapi-api itu ia ucapkan ketika masa kejayaannya. Pemuda dilukiskan sebagai sosok yang unggul, bergairah, bergelegak dan bergelora secara fisik, psikis, intelektual, serta berani dalam bersikap.
Pemuda sosok superior, progresif, revolusioner dengan semangat berkobar-kobar, dan bara spirit yang menyala-nyala. Ungkapan Soekarno terbukti tidak hanya di Indonesia. Di Amerika Latin, walau tidak diakui Amerika, Che Guevara menjadi sosok penting dalam menggerakkan semangat revolusi di Amerika Latin.
Keberhasilannya membantu Castro dalam menumbangkan rezim Batista di Kuba pada 1959 membuat Guevara kembali memimpin kelompok revolusi bawah tanah di Bolivia. Sayangnya, ia kemudian ditembak mati. Kematiannya pada usia 39 tahun justru membuat pemujaan terhadap dirinya semakin menjadi.
Kematian yang membuatnya menjadi inspirasi gerakan politik kaum muda revolusioner didunia. “No lo vamos a olvidar (kami tidak akan membiarkannya dilupakan)” diteriakkan kaum muda hampir di semua jalan-jalan di Amerika Latin.
Alur sejarah Indonesia merupakan rentetan sejarah pergolakan melawan imprialisme Belanda dan Jepang selama tiga ratus lima puluh tahun lamanya. Dari kondisi penjajahan itulah gerakan politik kaum muda bangkit dan menentukan arah sejarah bansa Indonesia.
Ben Anderson, pengamat politik Indonesia terkemuka menyakini sejarah Indonesia adalah sejarah pergerakan kaum muda. Dalam setiap fase sejarah, kepemimpinan kaum muda adalah motor penggerak perubahan zaman. Sederetan fakta sejarah telah menegaskan dengan sangat terang-benderang kepeloporan kaum muda.
Kebangkitan nasional 20 Mei 1908, yang ditandai dengan berdirinya organisasi kepemudaan Budi Utomo, Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928, hingga Indonesia merdeka 17 Agustus 1945, adalah momentum-momentum sejarah yang menempatkan kaum muda sebagai aktor utamanya.
Organisasi pertama yang didirikan oleh kaum muda Indonesia kelas ningrat ialah Budi Utomo , berdasarkan gagasan idealis gotong royong tanpa kesadaran politis. Indische Partij, yang berdasarkan golongan indo yang makmur, ialah partai pertama yang menuntut kemerdekaan Indonesia, tetapi tanpa hubungan dengan rakyat Indonesia. Pada tahun 1913 partai ini dilarang karena tuntutan kemerdekaan itu, dan sebagian besar anggotanya berkumpul lagi dalam Serikat Insulinde.
Merujuk pada penuturan Samsir Muhammad (81), seorang aktivis kemerdekaan yang juga mantan Sekretaris Jendral Barisan Tani Indonesia (BTI), seperti yang ditulis Mulyani Hasan, saat itu Soekarno sedang gencar-gencarnya melakukan penyadaran politik anti kolonial kepada pribumi melalui Partai Nasional Indonesia (PNI).
Samsir diam-diam berada di antara orang-orang itu dan menyimak pidato-pidato Soekarno, seorang aktivis pergerakan yang kelak menjadi presiden pertama Republik Indonesia.
Kesadaran para pemuda untuk memerdekakan diri dari penjajahan saat itu sudah mengalir deras. Organisasi-organisasi pelajar seperti Baperpi (Badan Perwakilan Pelajar Indonesia) dan PPP (Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia) bersatu dan terbentuklah asrama Menteng 31 pada penghujung tahun 1942.
Para penggeraknya yakni Sukarni, Chaerul Saleh, A.M Hanafi, Ismail Wijaya, Soekarno, Moch.Hatta, Muhammad Yamin, Iwa Kusumasumantri, Amir Syarifudin dan Moch. Djembek. Dari pihak Jepang yang membantu adalah Prof. Beki H Shimizu. Mereka melakukan agitasi, memberi masyarakat pelajaran-pelajaran politik dan agama. Dari kawasan Menteng 31 inilah sperma proklamasi mengkristal, ulas samsir.
Proklamasi tinggal menanti hari. Sejumlah tokoh pemuda merumuskan dan memandatkan pembacan proklamasi kepada Soekarno dan Hatta. Kisah proklamasi kemerdekaan Indonesia adalah kisah bagaimana ketepatan memanfaatkan momentum politik untuk memerdekakan diri. Kemerdekaan Indonesia bukan hadiah dari imprialis. Kemerdekaan Indonesia adalah klimaks dari konsistensi gerakan perlawanan politik kala itu ditambah ketepatan strategi taktik memanfaatkan momentum politik.
Kelompok aktifis muda progresif yang mendesak Soekarno dan Hatta, pada detik-detik proklamasi kemerdekaan Indonesia. Seketika pada 16 Agustus 19945 sekolompok aktivis muda menawan Soekarno dan Hatta, untuk segera mendeklarasikan kemerdekaan Indonesia pada pagi harinya 17 Agustus 1945, seiring menyerahnya Jepang dari tekanan sekutu setelah dua BOM nuklir meluluh lantakkan Hiroshima dan Nagasaki. Imbas perang dunia ke II, telah memberi momentum pening dalam sejarah kemerdekaan Indonesia.
Jika diperiksa dalam sejarah perjuangan gerakan, tak ada yang membantah kaum muda selalu menjadi motor utama perubahan. Proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945, merupakan hasil konkret perjuangan kaum Muda Indonesia. Pada saat itu, kelompok pemuda dari Gerakan Menteng 31 menganggap bahwa masa kekosongan kekuasaan (karena Jepang baru saja kalah dalam perang Asia Timur Raya) harus dimanfaatkan untuk menyiapkan kemerdekaan.
Kaum muda tidak sepakat dengan metode yang ditempuh golongan tua (Soekarno dan Hatta) dengan berharap belas kasihan Jepang, dengan bekerja di BPUPKI dan PPKI. Terjadilah peristiwa rengasdengklok, mahasiswa dan pemuda menculik Soekarno –Hatta dan memaksa mereka untuk menandatangani teks proklamasi dan membacakannya tanggal 17 Agustus. Kalau bukan kepeloporan kaum muda, tidak mungkin kita mempringati kemerdekaan tiap tanggal 17 Agustus.
Dalam analisa sejarahnya soal revolusi social di Jawa tahun 1945-1946, Ben Anderson menyebut gejolak tersebut sebagai revolusi pemuda, karena pada saat itu golongan pemuda merupakan motor dari revolusi yang tengah bergulir. Bahkan, peranan mereka sekaligus mengalahkan peranan kaum intelegensia dan kelompok lainnya dalam kancah perpolitikan saat itu.
Reformasi dan Tugas Berat Kaum Muda
Tongkat estafet sejarah perubahan selalu dalam gengaman kaum muda, namun setelah itu kekuasaan selalu berpindah tangan kepada mereka yang tua, dan cenderung kompromis.
Peristiwa 21 Mei 1998 yang menjadi awal dari babak baru perubahan di tanah Air, dimana perlawanan kaum muda akhirnya menumbangkan rezim militer Soeharto, namun sekali lagi kekausaan masih menjadi “hak” orang-orang tua yang pandangannya cenderung kompromis. Sekali lagi kamum muda menuai kekecewaan yang amat dalam, mana kala buah manis dari hasil jerih payah gerakan yang dibangun kaum muda, kekuasaan diselewengkan kaum tua konservatif yaitu (golkar, militer dan reformis gadungan). Tak ada perubahan yang berarti seperti yang diharapkan kaum muda. Dimana letak persoalan gerakan kaum muda?
Berangkat dari, kekuasaan yang didominasi kaum tua yang kecenderungan berpikirnya konservatif. Seolah kaum muda sudah bosan melihat roda pemerintahan di jalankan kaum tua. Belakangan ini, ditingkatan nasional, tokoh-tokoh muda mulai mengusik kekuatan kaum tua dalam dominasi politik.
Pada peringatan Hari Sumpah Pemuda Ke-79 di halaman Gedung Arsip Nasional, Jakarta, Minggu (28/10) lalu, para pemuda dan tokoh muda Indonesia berikrar bangkit membangun Indonesia yang sejahtera sebagaimana diserukan dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945.
Bagi para pemuda, inilah saatnya dengan visi pembaruan, mereka berhimpun menghapus berbagai bentuk penjajahan dan bangkit menegakkan negara kesejahteraan. Itu diungkapkan dalam pertemuan kaum muda merayakan Hari Sumpah Pemuda yang mengambil tema “Saatnya Kaum Muda Memimpin”.
Dalam kesempatan ini kaum muda itu juga berseru menolak slogan yang menyebutkan bahwa sejarah bukan berakhir. Sebaliknya, mereka menyebutkan bahwa saat ini adalah awal membangun sejarah baru.
Latar dari ikrar di Gedung Arsip Nasional itu adalah keprihatinan kaum muda terhadap kondisi Indonesia yang belum kunjung pulih dari krisis. Cita-cita mulia bernegara dimanipulasi, mulai dari pengerukan kekayaan alam hingga pengabaian terhadap harkat dan martabat sesama manusia.
Akibatnya, penganggur merajalela, muncul komunalisme, kebencian antarkelompoketnis dan agama dikobarkan, orang saling berebut kekuasaan dan menjadikannya sumber menguras harta negara, dan korupsi yang terus merajalela.
Keprihatinan itulah yang kemudian menggerakkan para pemuda untuk bangkit. Mereka ingin membangun Indonesia yang lebih beradab, disegani, dan sejahtera.
Dalam acara yang dihadiri sekitar 600 orang muda serta korban ketidakadilan seperti penggusuran, pengangguran, dan kejahatan politik itu hadir tokoh muda, antara lain, Anies Baswedan, Usman Hamid, Patra M Zen, Agung Putri, Hilmar Farid, Benny Susetyo, Yudi Latif, Fadjroel Rachman, Faisal Basri, serta budayawan Mudji Sutrisno, Franky Sahilatua, dan Rieke Dyah Pitaloka.
Ikrar kaum muda Indonesia itu sendiri berawal dari gagasan tentang apa yang dapat dilakukan dan disumbangkan pemuda Indonesia mulai saat ini. Gagasan itu secara intensif diwacanakan sejak Mei lalu dalam pertemuan yang antara lain dihadiri tokoh-tokoh muda seperti Hilmar Farid, Usman Hamid, dan Ray Rangkuti.
Kaum muda selalu di remehkan sebagai suatu kelompok social yang belum sanggup memimpin dirinya sendiri, apalagi memimpin Negara. Landasannya sederhana, factor umur yang masih muda menyebabkan secara psikologis kaum muda sangat labil, dan emosional yang meletup-letup.
Setelah rejim orde baru runtuh, memang muncul rejim-rejim yang berkuasa dari proses electoral (Pemilu yang lebih demokratis ketimbang di bawah rejim Orde Baru), namun hasilnya ketika mereka berkuasa justru menjalankan orientasi politik dan ekonominya menurut system ekonomi Neoliberal atau Imperialisme gaya baru.
Utang luar negeri, dalam prakteknya hanyalah alat bagi Imperialis—debt trap -indonesia kemudian semakin tergiring dalam perangkat utang luar negeri dan semakin di paksa untuk menjalankan syarat-syarat ekonomi ketentuan IMF yang disebut Struktural Adjusman Program (SAP)- itulah neoliberalisme.
Seperti disebutkan Jeffrey Winters yang dikutip dalam tulisan Ulfa Ilyas, ia menyebutkan hingga krisis ekonomi 1997, hutang Indonesia yang layak disebut hutang najis (odious debt) sedikitnya US$30 miliar, dimana US$10 miliar dari Bank Dunia, sisanya dari ADB, serta lembaga multilateral dan bilateral lainnya. Rejim-rejim yang berkuasa kemudian melaksanakan paket2 kebijakan ekonomi neoliberal tersebut seperti; pencabutan subsidi, liberalisasi perdagangan, privatisasi/swastanisasi, restrukturisasi perbankan, regulasi perundang-undangan dan lain sebagainya.
Sektor pertambangan adalah lumbung rejeki yang selama ini memperbesarkan kantong2 imperialis, sejak jatuhnya rejim nasionalis Soekarno dan Soeharto naik; sektor pertambangan telah menjadi upeti utama bagi imperialis; masuknya Freeport tahun 1968, Newmont, Astra International, ExxonMobil, Shell, Petronas, Total, Chevron, dan Texaco semakin menjelaskan kuatnya dominasi imperialisme Indonesia dan merampas kedaulatan negara kita. Legitimasi lewat Undang-Undang Migas tahun 2001 untuk memberi keleluasaan MNC/TNC Migas untuk menjarah kekayaan Migas kita.
Coba bayangkan! Ditengah kekayaan alam negara kita, disektor Migas saja, sebuah perusahaan multi nasional (MNC) yang bergerak dalam bidang eksplorasi dan eksploitasi migas meraup keuntungan untuk tahun 2005 sebesar 36,2 miliar dolar AS ( 362 triliun rupiah ). Sedangkan disisi lain sekitar 120-140 juta rakyat indonesia di garis kemiskinan menurut Versi Bank Dunia dan Asian Develovment Bank.
Krisis energi di pusat-pusat imperialis, seperti AS, semakin memaksa mereka untuk mencari sumber-sumber energi—ladang-ladang minyak untuk mensupport industri mereka, maka jalan kekerasan pun bisa ditempuh untuk maksud tersebut.
Di Indonesia untuk memastikan ketundukan SBY-JK, Menlu condoleezza Rice dan George W. Bush berturut-turut datang ke Indonesia menemui kaki-tangannya, sebelumnya presiden SBY juga mengunjungi AS.
Perluasan dominasi imperialis AS dan sekutunya ke negara-negara dunia ketiga mensyaratkan dominasi langsung. Pencaplokan bahan mentah ini disahkan dengan berbagai perangkat Undang-undang.
Penguasaan sektor eksplorasi tambang Hulu-hilir oleh imperialis juga berimplikasi pada matinya industri-industri dalam negeri, lihat saja tutupnya indutri pupuk dalam negeri seperti Industri Pupuk Iskandar Muda (PIM) yang ber-batasan tembok dengan ExxonMobile penghasil bahan bakar.
Imperialisme hanya akan menjadikan negara-negara dunia ketiga seperti Indonesia sebagai pemasok bahan baku sekaligus pasar bagi produk-produk mereka. Sedangkan disisi lapangan politik saat ini, panggung politik masih diisi sepenuhnya oleh elit politik lama dari partai politik yang sudah terbukti gagal dalam menyelesaikan problem rakyat.
Proses pemilu electoral,jika tidak memunculkan tokoh baru yang memiliki komitmen kerakyatan, bisa jadi hanya akan menjadi mekanisme procedural untuk melahirkan oligarkhi politik. Artinya, semua mesin-mesin politik di kuasai dan dimanfaatkan sepenuhnya oleh kekuatan politik lama yang memiliki modal kuat. Tentunya, ini merupakan bahaya bagi demokrasi karena demokrasi menghendaki adanya seleksi adil bagi munculnya kepemimpinan politik yang mencerminkan kehendak mayoritas. Maka dengan tesis ini, wacana kepemimpinan kaum muda dalam panggung politik nasional semakin relevan untuk di bahas. Dan dalam realitas politik real saat ini, sudah semakin banyak kaum muda baik secara individual maupun secara organisasional merealisasikan dirinya dalam panggung politik yang ada.
Karena lepas dari kerangka dan agenda gerakan, aktivis mahasiswa yang menyebrang masuk kearena politik ini menjadi terfragmentasikan, tidak diberdayakan, dan malah mereka tercebur dalam mekanisme politik lama. Banyak tokoh muda, dan beberapa mantan aktivis yang tercerembab menjadi ayam sayur dalam system kekuasaan politik kaum tua. Sebenarnya kita melihat ini bukan problem moralitas, ini adalah persoalan konsepsi strategi-taktik perjuangan kaum muda yang belum padu dan konkret.
Kini saatnya kamu muda bersatu, konsilidasi sebagai tahapan awal mutlak dilakukan. Mendirikan dan membangun partai politik yang berkarakter kerakyatan sebagai organisasi yang bisa digunakan sebagai kendaraan untuk merebut kekuasaan wajib dilakukan.
Partai politik yang kita dirikan hendaklah partai yang progresif, Revolusioner dan mengakkan disiplin yang ketat. Hendaklah Partai Rakyat Aceh (PRA) sebagai partai local yang didirikan kaum muda dapat menjadi embrio agar kita dapat meneruskan cita-cita gerakan kaum muda untuk mewujudkan kesejahteraan di Negeri ini. Berkuasa, untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat.
Leave a Comment so far
Leave a comment