Filed under: tokoh
Ketua: Dewan Pimpinan Wilayah Partai Rakyat Aceh (DPW-PRA) Kota Banda Aceh
Anak ke 7 dari 10 bersaudara tersebut, dilahirkan dan dibesarkan dari keluarga yang sederhanana, Zulkarnaen namanya. Namun siapa sangka Zulkarnaen saat ini menempati ketua Dewan Pimpinan Wilayah Partai Rakyat Aceh (DPW-PRA) kota Banda Aceh. Sebuah posisi yang strategis dalam politik lokal di Aceh.
Mengenal pergulatan dunia politik sejak tahun 1998, kala ia masih berstatus sebagai Pelajar di Sekolah Menagah Umum Safiatuddin. Maklum pada priode tahun tersebut Indonesia sedang mengalam krisi Ekonomi dan politik.
Saat itu ia mulai mengenal dan akhirnya menjadi anggota organisasi pelajar yang bernama Solidaritas Pelajar Untuk Rakyat (SPUR). Berawal dari kecintaanya mendengarkan diskusi-diskusi yang diselengarakan di kantor Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Aceh, akhirnya ia menentukan jaln hidupnya untuk terlibat dalam perjuangan membela hak-hak masyarakat sipil di Aceh.
Hari-hari yang ia lalui bertolak belakang dengan kehidupan remaja lainnya. Kawan-kawan sekolahnya sibuk dengan kehidupan Hedonisme (hura-hura). Sementara ia sibuk dengan diskusi dan demontrasi menuntut hak-hak pelajar seperti pendidikan gratis dan berkwalitas.
Tidak hanya menuntut isu-isu yang dihadapi pelajar saja, SPUR juga terlibat dalam usaha-usaha menuntut terciptanya damai di Aceh.
Tidak semuanya berjalan mulus, jalur politik yang dan keterlibatanya di organisasi mendapat penolakan dari keluarnganya. Meski begitu, keteguhan dan keyakinan atas pilihan politiknya, talah menyadarkan keluarganya untuk memaklumi dan merestuinya.
Ia juga pernah mewakili SPUR untuk mengkampanyekan persoalan pelanggaran HAM di Aceh di kalangan Pelajar di SUMUT. Ia bersama Abdurrahman teman satu sekolahnya, mengelilingi Medan sampai ke Rantau Prapat guna mengkampanyekan pelangaran HAM yang terjadi di Aceh.
Tidak berhenti sampai disitu, saat Aceh berstatus darurat militer, aktifitas politiknya berhenti. Ia memilih bergabung dalam organisasi Remaja Mesjid Al Makmur. Sampai Tsunami melanda Aceh tiga tahun lalu.
Dimasa emergensi atas bencana tsunami, ia bersama-sama teman-temanya mengkonsolidasikan bantuan untuk korban bencana tsunami dalam Perkumpulan Care Aceh.
Diperkumpulan tersebut ia mulai bekerja sosial, hinga perundingan damai antara pemerintah RI dan GAM menandatangani MoU damai di Aceh. Pertanda Aceh segera damai.
Tak lama setelah itu, ia terlibat dalam Kongres Front Demokratik Rakyat Aceh (FDRA). Kongres tersebut menghasilkan kesepakatan pembentukan partai lokal yang kemudian dibentuklah Komite Persiapan Partai Rakyat Aceh (KP-PRA). Sejak itu ia aktif di KP-PRA, pada preode awal pembentukan partai, ia ditugaskan untuk membangun struktur Partai di Kabupaten A. Besar.
Berhasil membangun struktur di Aceh Besar, dengan alasanya perluasan wilayah struktur partai, akhirnya ia ditugaskan untuk membantu pembangunan struktur partai di kota Banda Aceh.
Tak lama berselang, tepatnya pada November 2006, ia ditunjuk menjadi Ketua KP-PRA B. Aceh. Ia terus bekerja di wilayah Banda Aceh, sampai terlaksananya Konfrensi Wilayah di kota Banda Aceh. Melalui komfrensi wilayah PRA kota Banda Aceh, secara demokratis dirinya terpilih menjadi ketua definitif Dewan Pimpinan Wilayah Partai Rakyat Aceh (DPW-PRA) kota Banda Aceh.
Kesepakatan damai RI dan GAM, telah membuka ruang demokrasi untuk kembali beraktifitas secara politik. Dan Zulkarnaen memilih bergabung dengan Partai Rakyat Aceh (PRA).
Biodata
Nama : Zulkarnain
Tempat/tgl lahir : B.Aceh 14 Oktober 1981
Alamat : Jl. Utama. Lr. Banna. No. 43 Rukoh, B.Aceh
Jabatan : Ketua DPW PRA Kota Banda Aceh
Pendidikan :
- Min B. Aceh 1994
- Pesantren Nurul Hikmah 1997
- SMU Safiatuddin 2002
- Fakultas Hukum Muhammadiyah 2006 s/d sekarang
Pengalaman organisasi :
- OPN (Organisasi Pelajar Nurul Hikmah)
- Remaja Mesjid Al Makmur
- SPUR (Soldaritas Pelajar Untuk Rakyat)
- CARe Aceh
sumber: Haba rakyat edisi VII
Leave a Comment so far
Leave a comment